Thursday, July 23, 2009

Buanglah Sampah Pada Tempatnya



Sedari kecil sudah sering kita dengar kata-kata "Buanglah sampah pada tempatnya".
Aturan umum yang sangat simpel dan mendasar. Janganlah dulu membicarakan tentang pengaruh jumlah kendaraan terhadap pemanasan global, tapi bicarakan sampah di Ibu Kota.

Foto disamping diambil saat lari pagi. didaerah Karet Pedurenan Kuningan Jaksel.

Konflik kepentingan keliatan di foto ini. Ada yang merasa keberatan dengan bau dan pemandangan yang tidak sedap dan memasang tanda dilarang buang sampah. Terbayang besar usahanya memajang tulisan "dilarang nyampah" diatas pagar berduri agar tidak mudah dicuri atau dibuang orang lain. Disisi lain ada warga yang punya kebutuhan membuang sampah dari rumahnya, yang dengan 1001 alasan pembenaran, membuang sampah dipinggir jalan. Kemudian ada pihak terakhir yang merasa jengah dengan bau dan pemandangannya yang memutuskan untuk membakar sampah tersebut langsung ditempatnya.

Sepertinya sudah berlangsung rutin dan lamaaaaa
terus menerus dilakukan sehingga sudah menjadi kebiasaan

Hasilnya seperti pada gambar, menimbulkan dampak antara lain:
  • Bahaya tembok rubuh, kekuatan dinding tembok berkurang jika dibakar terus menerus, lihat saja kondisi dinding bagian bawah.
  • Bau dan pemandangan yang tidak sedap.














Pemandangan umum lainnya adalah orang membuang sampah di jalan.
  • Yang jalan kaki buang sampah di jalan
  • Yang pake kendaraan umum buang sampah di jalan
  • Sampe yang pake mobil pribadi yang mewah pun tidak segan-segan buang sampah lewat kaca jendela mobilnya ke jalan.

Sepertinya peradaban kita masih belum berkembang kalo melihat kasus2 seperti ini.

Perintah simpel dan mudah kok sulit sekali dilakukan semua pihak "BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA"